
KUTAI TIMUR – Jajaran kader DPD Partai NasDem Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bereaksi keras terhadap pemberitaan platform media Tempo yang menyudutkan internal partai. Mereka secara tegas menolak narasi yang menyebut Partai NasDem dikelola dengan pola manajemen perusahaan.
Ketua DPD NasDem Kutim, H. Arfan, menilai penyematan label “perusahaan” merupakan bentuk simplifikasi yang keliru dan melukai dedikasi para kader di seluruh pelosok daerah.
Arfan menegaskan bahwa Partai NasDem lahir dari rahim perjuangan ideologis yang panjang di bawah kepemimpinan Surya Paloh. Baginya, menyamakan partai politik dengan entitas bisnis adalah sebuah kekeliruan fatal yang mengabaikan nilai-nilai kebersamaan.
”Partai ini dibangun dengan keringat dan perjuangan dari nol. Kami tidak terima jika institusi yang diperjuangkan secara kolektif ini digambarkan sebagai perusahaan yang hanya tunduk pada kendali sepihak dan orientasi profit,” tegas Arfan.
Ia menambahkan bahwa narasi tersebut berpotensi membangun persepsi publik yang menyimpang mengenai mekanisme pengambilan keputusan di dalam partai.
Meski menjunjung tinggi kebebasan pers dan hak kritik dalam demokrasi, NasDem Kutim mengingatkan pentingnya aspek etika. Arfan menekankan bahwa informasi yang tidak akurat dapat memicu instabilitas dan memecah belah persatuan nasional.
”Silakan berikan kritik, karena itu bagian dari demokrasi. Namun, etika adalah harga mati. Jangan sampai opini yang menyesatkan justru memperkeruh suasana politik kita,” lanjutnya.
Pernyataan sikap ini, menurut Arfan, bukanlah instruksi formal dari struktur pusat (DPP), melainkan respons spontan yang lahir dari kesadaran para kader di Kutai Timur. Hal ini menunjukkan adanya ikatan emosional yang kuat antara kader dengan partai.
”Ini murni panggilan nurani kami di daerah. Kami merasa berkewajiban membela kehormatan partai yang selama ini menjadi rumah perjuangan kami. Kami bersuara karena merasa marwah partai sedang disudutkan,” pungkasnya.(*)


