
Samarinda– Keberhasilan Tim panjat tebing Kutai Timur (Kutim) mencetak hattrick medali emas dan menyegel gelar Juara Umum pada ajang Kejurprov Kaltim 2026 tidak lepas dari tangan dingin sang pelatih, Fitriyadi. Di balik gemerlap prestasi di atas podium, Fitriyadi menjadi sosok penting yang meramu strategi dan membangun mental bertanding para atlet.
Saat dikonfirmasi, Fitriyadi menegaskan bahwa capaian luar biasa ini bukanlah kerja personal, melainkan buah dari support system (sistem pendukung) yang solid dan bergerak selaras di dalam tim.
Menurut Fitriyadi, sedikitnya ada tiga pilar utama yang menjadi pondasi kesuksesan Tim Kutim dalam menjuarai kompetisi bergengsi tingkat provinsi ini:
Pilar Atlet dan Orang Tua: Kutim beruntung memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) atlet yang mumpuni, yang perkembangannya didukung penuh secara moral dan doa oleh orang tua masing-masing.
Pilar Pelatih dan Tim Teknis: Komitmen dari para pelatih yang terus memperbarui (update) ilmu dan dinamika panjat tebing, yang ditopang penuh oleh peran krusial para Route Setter, Belayer, serta kru teknis lainnya.
Pilar Pengurus Cabang: Dedikasi pengurus yang luar biasa dalam menjaga keberlangsungan sistem ini. Fitriyadi mengapresiasi para pengurus yang rela mengorbankan waktu, bahkan menyisihkan kantong pribadi demi tim, sembari tetap amanah dalam memperjuangkan pembinaan lewat anggaran resmi yang sah.
Sebagai pelatih, Fitriyadi memiliki pandangan yang mendalam mengenai makna seorang juara. Bagi beliau, mencetak atlet berprestasi harus beriringan dengan pembentukan karakter dan akhlak yang baik. Di setiap sesi latihan, ia selalu menaruh perhatian besar pada kedisiplinan.
”Ajarkan kebaikan, ada penekanan khusus di sini mengenai disiplin waktu dan disiplin attitude. Sebab kalian bisa menjadi juara sampai batas maksimum tertentu di umur tertentu, tapi kalau attitude baik, itu adalah juara yang sesungguhnya dan akan selamanya dikenang,” tegas Fitriyadi.
Filosofi sportivitas yang tinggi juga selalu ditanamkan Fitriyadi kepada anak-anak asuhnya. Beliau kerap mengingatkan prinsip, “Di dinding kita bersaing, di lantai kita semua teman.
Menang tidak boleh congkak, kalah tidak boleh berlarut dalam kesedihan.” Bagi Fitriyadi, hasil minor di sebuah laga bukanlah kegagalan mutlak, melainkan bagian dari proses pembelajaran panjang yang harus dilalui seorang atlet menuju kematangan.
Tidak hanya menggembleng fisik dan taktik di dinding panjat, Fitriyadi juga dikenal sebagai sosok yang religius dalam membimbing tim. Ia selalu menekankan pentingnya aspek spiritual kepada para atlet di tengah kerasnya porsi latihan.
”Selain kerasnya berlatih, ajarkan juga untuk mengingat Tuhan-Nya. Sebab atlet yang kita latih bukan hanya mengejar suksesnya di podium, tetapi agar tidak sombong dalam setiap kemenangan dan tidak putus asa dalam setiap kekalahan,” tuturnya.
Ia meyakini, mendorong para atlet untuk taat beribadah sesuai keyakinan masing-masing tidak akan pernah membawa kerugian bagi siapa pun. Sebaliknya, hal itu memicu doa-doa baik dari seluruh elemen yang terlibat. Menurut Fitriyadi, ketika dimensi spiritual ini ikut bekerja, dampaknya akan sangat luas bagi kebersamaan dan prestasi Kutai Timur ke depan.
Lewat kepemimpinan dan pendekatan komprehensif dari Fitriyadi—mulai dari manajemen pembinaan, penanaman karakter, hingga penguatan spiritual—Tim Panjat Tebing Kutai Timur kini sukses membuktikan diri sebagai kekuatan yang mendominasi di Kaltim.(*)


