banner 728x250
Berita  

Lada Batu Ampar Alami Mati Suri, Petani Beralih ke Nanas karena Harga Tak Lagi Menguntungkan

Pelitapost.COM Kutai Timur – Penurunan harga lada yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat komoditas andalan Batu Ampar itu kehilangan pamor. Sebagian besar petani memutuskan berhenti membudidayakannya karena nilai jual yang tidak lagi sebanding dengan biaya dan tenaga perawatan. Pergeseran ini menandai perubahan signifikan dalam struktur pertanian Batu Ampar.

Camat Batu Ampar, Suriansyah, mengatakan bahwa lada di wilayahnya pernah mencapai masa kejayaan dengan harga yang sangat tinggi. “Dulu ladanya luar biasa sangat booming pada saat lada itu harganya kan sampai lebih daripada Rp100.000 sekilo,” ujarnya.

Kini harga lada jatuh hingga tinggal separuh dari nilai sebelumnya. Di tingkat petani, komoditas ini hanya dihargai sekitar Rp50.000–Rp60.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani tidak lagi melihat prospek cerah dari lada. “Sekarang lada itu kan murah. Rp50.000, Rp60.000 saja. Ya jaranglah yang mengurusi itu lagi,” lanjutnya.

Menurut Suriansyah, andai harga masih berada pada kisaran Rp70.000–Rp80.000, kemungkinan besar petani tetap mempertahankan kebun lada. Namun realitas yang dihadapi mendorong mereka mencari alternatif lain yang lebih stabil. Nanas kemudian menjadi pilihan utama karena dinilai lebih adaptif dan memiliki pasar yang lebih baik.

Selain merosotnya harga lada, Batu Ampar juga tidak memiliki karakteristik wilayah yang mendukung tanaman padi. “Batu Ampar ini umumnya berupa daerah dataran pegunungan. Tidak ada sawah,” tegasnya. Walaupun pernah ada rencana pengembangan sawah di Desa Telaga, minat masyarakat tidak mengarah ke sana karena petani di Batu Ampar bukanlah penggarap padi secara turun-temurun.

Dengan kondisi tersebut, nanas kini menjadi komoditas yang diandalkan untuk menjaga perekonomian lokal, sementara lada tinggal menyisakan jejak kejayaan masa lalu. (adv/PostRJ)