Pelitapost.COM SANGATTA – Upaya Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kutai Timur (Kutim) menyelesaikan pembangunan infrastruktur tahun ini menghadapi berbagai tekanan. Mulai dari keterbatasan waktu anggaran hingga persaingan tenaga kerja, seluruhnya menjadi tantangan besar dalam menuntaskan program prioritas.
Kepala Dinas Perkim Kutim, H. Ahmad Iip Makruf, mengungkapkan bahwa kondisi geografis Kutim menjadi faktor dominan yang menghambat pelaksanaan kegiatan. Dengan wilayah yang luas dan permukiman yang terpencar di 19 kecamatan, proses pengawasan dan mobilisasi tenaga kerja membutuhkan waktu lebih panjang. “Ini wilayah yang sangat luas, dan kegiatan yang harus kami kerjakan banyak,” ujarnya.
Persoalan tidak berhenti di situ. Tahun ini, DPA baru diterbitkan pada akhir Oktober sehingga waktu pelaksanaan berbagai proyek menjadi sangat sempit. Situasi ini membuat kontraktor dan tim teknis harus bekerja dengan ritme tinggi, namun tetap menjaga kualitas. “Kami bekerja dengan waktu yang terbatas, jadi wajar kalau progres tidak secepat yang diharapkan,” jelas Iip.
Di lapangan, Perkim juga berhadapan dengan cuaca yang sulit diprediksi, kiriman material yang sering terlambat, serta minimnya tenaga tukang akibat banyaknya proyek bersamaan. Semua faktor itu menyebabkan perlambatan, terutama pada pekerjaan fisik yang membutuhkan kecepatan dan ketelitian. “Material dan tukang sering berebut, apalagi saat beban pekerjaan meningkat,” tambahnya.
Meskipun sebagian kegiatan menggunakan pola penunjukan langsung, Perkim memilih fokus pada pekerjaan yang benar-benar memungkinkan untuk diselesaikan. Target capaian pun disesuaikan pada angka 50 hingga 70 persen agar tetap realistis dan tidak mengorbankan mutu pekerjaan.
Perkim berharap dukungan seluruh pihak agar pelaksanaan pembangunan di Kutim tetap berjalan optimal. Program utama seperti jalan lingkungan, drainase, peningkatan rumah layak huni, hingga penanganan kawasan kumuh tetap menjadi prioritas dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (adv/PostRJ)






