banner 728x250
Berita  

Perkuat Ketahanan Informasi Daerah, Diskominfo Kutim Fokus pada Verifikasi dan Peran Strategis Media Lokal

PelitaPost.COM SANGATTA — Arus informasi yang semakin masif di era digital mendorong Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kutai Timur (Kutim) memperkuat peran media lokal dalam menjaga akurasi dan kualitas berita yang beredar. Kepala Diskominfo Kutim, Ronny Bonar, menegaskan bahwa media lokal merupakan mitra strategis pemerintah dalam menangkal hoaks, terutama informasi keliru yang bersumber dari luar daerah.

Ronny menyampaikan bahwa meskipun penyebaran informasi tidak dapat dibatasi, setiap pihak yang terlibat wajib mematuhi prinsip utama jurnalisme, yakni melakukan konfirmasi sebelum mempublikasikan berita. Langkah tersebut penting agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi menyesatkan.

“Informasi boleh menyebar, tetapi harus diverifikasi terlebih dahulu. Itu aturan dasar yang tidak boleh dilanggar,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar hoaks yang beredar di Kutim bukan berasal dari media lokal, melainkan dari sumber luar yang tidak dapat dijangkau langsung oleh pemerintah daerah. Kondisi ini membuat proses klarifikasi menjadi lebih kompleks dan membutuhkan dukungan penuh dari media di daerah.

Karena itu, Diskominfo Kutim memperkuat sinergi dengan media lokal sebagai saluran resmi penyampaian klarifikasi dan literasi publik. Menurut Ronny, kedekatan media lokal dengan masyarakat membuat perannya sangat krusial dalam meredam penyebaran informasi negatif.

Selain memperkuat kerja sama dengan pers, Diskominfo terus mempelajari pola penyebaran hoaks yang kini berkembang lebih cepat dan lebih terorganisasi, termasuk hoaks yang dapat memengaruhi opini publik. Pemerintah, kata Ronny, harus tetap berhati-hati dan tidak terpancing isu yang belum memiliki dasar jelas.

Ronny juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam melawan hoaks. Ia mengingatkan agar publik tidak mudah membagikan informasi sebelum memastikan sumber dan kebenarannya.

“Hoaks tidak akan hilang, tetapi dengan kolaborasi dan kesadaran masyarakat, dampaknya bisa diminimalisir,” ujarnya. (adv/PostRJ)