banner 728x250 banner 728x250

Petani Keluhkan Harga Jual Karet, Disbun Bangun Komunikasi Dengan Perusahaan Ban Asal Prancis yang Ada di Palaran.

Sangatta, pelitapost com -Kabupaten Kutai Timur mempunyai 19 ribu hektare tanaman karet, dimana 9 ribu hektare tanaman karet itu milik perusahaan. Sementara sisanya, sekitar 10 ribu hektare adalah milik masyarakat.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kutim, Sumarjana mengatakan bahwa petani karet yang ada di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengeluhkan harga jual karet ke pengepul sangat rendah yaitu hanya berkisar Rp 6000 hingga Rp 7000 per kilogram. Maka dari itu Dinas Perkebunan Kutim mencoba membangun kerja sama dengan salah satu pabrik karet yang ada di Kalimantan.

Perusahaan tersebut adalah Multi Kusuma Cemerlang (MKC) perusahaan besar/produsen ban asal Prancis yang ada di Palaran.

Ia menerangkan, dari hasil komunikasi yang di bangun, MKC siap menerima hasil karet dari Kalimantan Timur khususnya Kutim, tapi harus mengikuti standar industri yang ditetapkan.

Guna memahami standar yang ditetapkan, Disbun Kutim secara bertahap melakukan bimbingan teknis (bimtek) untuk mempelajari bagaimana standar SNI perusahaan.

Pengetahuan tersebut disalurkan ke petani karet tentang bagaimana mengolah karet tersebut agar kadar air atau tingkat kekeringannya di atas 70 persen yang berpengaruh pada peningkatan harganya jual.

“Padahal karet petani Kutai Timur itu hanya sekitar kadar air nya 60 persen . Ini yang membuat harga karet murah. Namun, kalau di press dan dianginkan selama seminggu atau dua minggu harganya bisa meningkat,” ungkapnya.

Untuk Bimtek petani karet akan dilakukan dalam dihimpun Unit Pengelolaan Pemasaran Bokar (UPPB). Disini, petani akan dilatih berbagai cara dan teknik, mulai dari penggumpalan karet, hingga penurunan kadar air dan sebagainya.

Setelah itu, UPPB akan melakukan sejumlah kesepakatan dengan petani karet terkait harga, trasnportasi dan pembiayaan lainnya.

“Setidaknya harga karetnya harus terkoreksi meningkat antara Rp 8000 hingga Rp 10.000,” ujarnya.

Dirinya berharap setelah pemantapan bimtek, petani karet tau tata cara teknis pengeringan agar karet yang dijualnya sesuai standar SNI. Dengan demikian kerja sama dengan PT MKC bisa berjalan baik dan menjadi solusi terhadap pemasaran karet yang ada di Kutai Timur.(adv/br)